Postingan

Featured Post

Do it for her.

Gambar
 satu waktu aku menatap foto-foto kecil itu.  dia sangat percaya diri, menyenangkan dan sangat mahir berselfie.  wajahnya yang belum tau bagaimana rasanya kehilangan. tatapan yang belum belajar bagaimana cara menurunkan ekspektasi. dan hati yang dipenuhi banyak mimpi. di masa itu, dia sama sekali tidak meragukan semua mimpinya.  seiring waktu, dunia mengajarkan banyak hal. cara bertahan.  cara beradaptasi. dan cara menjadi "masuk akal".  aku menyebutnya " Tumbuh Dewasa". padahal disaat yang sama, aku ternyata mulai menjauh dari diriku sendiri.  aku pikir jiwa kecil itu sudah jauh pergi- tertinggal di masa lalu, dalam kenangan.  dan di foto yang hanya dilihat sesekali. oh ternyata tidak. dia masih ada, masih hidup. masih tinggal di dalam diriku sampai detik ini.  dia muncul di momen-momen senyap. saat dalam hati aku bertanya apakah semua usaha ini akan sepadan. saat tubuh lelah, ternyata hati jauh lebih lelah. saat aku ingin berhenti karena me...

2025: Tahun berhenti mengejar sempurna

 2025 menjadi salah satu tahun yang membawa diriku terjun ke dunia yang penuh tantangan. Tidak sedikit obstacles yang aku hadapi sejauh ini, dan meski prosesnya tidak mudah, here I am —masih berdiri, masih berjalan. Ketidaksempurnaan caraku menghadapi terjalnya kehidupan selama setahun ini justru menciptakan satu kesadaran penting: aku manusia, selayaknya manusia. Sebagai seorang perfeksionis, aku mulai switching mindset bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, begitu pula dengan proses hidupnya. Terdengar naif, mungkin. Karena sering kali kalimat “ya namanya manusia nggak ada yang sempurna” hanya berhenti sebagai ucapan belaka. Simple, tapi jarang benar-benar dipahami maknanya—termasuk olehku. Pada akhirnya, semua kembali pada waktu. Butuh waktu bagiku untuk benar-benar mengenali dan memahami arti dari nothing is perfect . Penerimaan bahwa diri ini tidak sempurna ternyata cukup tricky, apalagi di tengah kehidupan saat ini yang dipenuhi budaya validasi. Memang b...

Lebaran Dalam Rindu

Transisi merayakan lebaran selama 4 tahun ini ternyata belum juga rampung.  masih jelas nyata gerak-gerik ibu bersemangat menanti hari kemenangan. Opor terenak di dunia, baju baru, juga sesederhana obrolan santai dikamar sambil mendengarkan suara takbiran. semuanya masih terasa.  Lebaran datang, rasanya masih terdengar suara langkah ibu di dapur. tapi sesaat aku menoleh, kok justru malah sunyi yang menyambut? ko malah air mata yang jatuh lebih dulu?  aku berusaha mengalihkan, tapi rasa rindu yang justru semakin deras.  Ditengah rindu ini, aku sadar bahwa aku bukan satu-satunya yang kehilangan. Bapak jauh lebih dalam merasakan kehilangan sosok ibu. hanya bedanya bapak menyimpan diam dan mencoba kuat untuk aku si anak bungsunya. maka kali ini aku berusaha membuat bapak bisa merayakan lebaran dengan seru dan bahagia meski hanya ada kami berdua. Karena aku tau, itulah yang pasti ibu inginkan.  Selamat berlebaran, Ibu tersayang, aku masih berjuang untuk menjadi anak ...

Si Rebel Baik Hati

 Bukan cuma temen, tapi gue anggap dia sodara yang bulan maret ini resmi jadi manusia seperempat abad.      Si rebel yang gue kenal 10 tahun lalu. Bocah rantau bandel yang kadang suka menentang,  weekend mate gue kalo para pribumi pulang kampung, yang tiba-tiba suka " dew, karaoke yu?", " dew, nonton avenger yu?", " di ciwalk aja dew, duit gua pas-pasan 25 rebu". kami bocah kere yang pengen cari hiburan dengan duit pas-pasan, but it was a blast!      Salah satu musuh si rebel ini adalah pesawat. dimana dia naik pesawat, dia berubah jadi burung tanpa sayap, jadi tim pegangan kursi sambil komat-kamit. sampe dia prefer naik transportasi darat ber jam-jam daripada harus bertarung lawan keringat dingin even cuma 1 jam.      tahun-tahun berikutnya, karier si rebel ini melesat cemerlang. kerja kerasnya gue acungi JEMPOL! menghadapi berbagai situasi sulit yang kadang dia gapunya tempat untuk cerita, katanya "Laki-laki tidak bercerita" HAHAH...

SUDDEN DESICION

Hi Deeps... awal tahun yang gak mudah buatku karena aku sekarang punya kewajiban baru yang harus aku selesaikan dalam kurun waktu 2 tahun.  YA, sarjana yang telat lulus ini memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2. lucu bukan? mungkin beberapa darimu berpikir kalo, buset, mau nambah berapa tahun lagi biar jadi sarjana magister? kok nekat banget si? kenapa ga langsung nyari kerja? cari suami gitu? ngapain sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya ikut suami ? wow kan, banyak sekali pertanyaan dan keraguan yang aku rasakan di sekelilingku.  tapi aku tetep berterimakasih karena dengan omongan itu selalu menjadi pegangan aku tetap mau berusaha dan jalanin. kalo ditanya susah ga jalaninnya? Jujur SUSAH, so far yaa.. karena mungkin butuh adaptasi untuk bisa kuliah sambil bekerja.  biar aku jelaskan alasanku lanjut sekolah. jadi to be honest, keputusanku ini bisa dibilang "Sudden desicion" yang mana once upon the time aku ketemu seseorang yang bisa bikin cara memandan...

Pinicha's birthday letter

kamis 24 oktober tepat 22 tahun, siapa? sahabat seperjuanganku. rasanya baru kemarin, dia menjadi remaja yang asik keliling indonesia dan sekarang sudah menjadi perempuan dewasa yang cantik. I really proud of her. She teached me a lot tentang lika-liku perjalanan kehidupan yang dia rasakan sejak kecil. dimulai dari perjuangan kami ada pada situasi cedera yang sama, frustrasi bareng, stress bareng, sedih bareng, sampai akhirnya healed bareng.  dan how grateful I am to have fought together at that time.  rasanya ajaib ya, ternyata kami membersamai reformasi kehidupan selama 10 tahun lamanya.. and let me gambarkan sosokmu disini yaa.. Pinicha Anjani... namanya lucu begitupun sosoknya, lucu yang kadang hanya orang-orang tertentu yang bisa menerima kelucuannya, termasuk aku. dan dibalik kelucuannya itu aku juga tau bahwa ada ruang kesedihannya yang juga hanya beberapa orang yang bisa merasakannya. dia termasuk orang yang susah untuk berteman, jadi aku sangat beruntung bisa jadi tem...

Echoes of What Was

I didn't expect bahwa berpura-pura ku berjalan lumayan lama, aku bersembunyi dibalik pertemanan yang mana pertemanan ini juga pun belum begitu lama berjalan tapi rasanya ada perasaan yang aku sembunyikan yang sampai ada dititik sedih yang mendalam..  dan sekarang, dimana aku mendengar kamu ada dalam hubungan baru dan aku merasa hubunganmu terlihat memiliki tujuan. dan sekali lagi, I'm happy for you but also I felt betrayed. aku berusaha membuang jauh perasaan kecewaku tapi nyatanya nihil, semakin dilupakan malah semakin berakar. aku malah berharap kamu sedih dan aku yang kembali jadi teman ceritamu, sama seperti waktu itu,  sesederhana memilih pakaian yang cocok untukmu dan aku merasa begitu special waktu itu :-). kayaknya gak gitu ya jalannya?  Apa ini cuma perasaan alam bawah sadarku dan bukan perasaan yang sesungguhnya? lalu bagaimana aku harus menyikapinya?  should I tell him? ah.. ide buruk. terus berpura-pura? tapi pondasi sabarku sudah mau roboh. we dont even ...