2025: Tahun berhenti mengejar sempurna
2025 menjadi salah satu tahun yang membawa diriku terjun ke dunia yang penuh tantangan. Tidak sedikit obstacles yang aku hadapi sejauh ini, dan meski prosesnya tidak mudah, here I am—masih berdiri, masih berjalan.
Ketidaksempurnaan caraku menghadapi terjalnya kehidupan selama setahun ini justru menciptakan satu kesadaran penting: aku manusia, selayaknya manusia. Sebagai seorang perfeksionis, aku mulai switching mindset bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, begitu pula dengan proses hidupnya. Terdengar naif, mungkin. Karena sering kali kalimat “ya namanya manusia nggak ada yang sempurna” hanya berhenti sebagai ucapan belaka. Simple, tapi jarang benar-benar dipahami maknanya—termasuk olehku.
Pada akhirnya, semua kembali pada waktu. Butuh waktu bagiku untuk benar-benar mengenali dan memahami arti dari nothing is perfect.
Penerimaan bahwa diri ini tidak sempurna ternyata cukup tricky, apalagi di tengah kehidupan saat ini yang dipenuhi budaya validasi. Memang benar, validasi adalah kebutuhan dasar sebagai manusia sosial. Namun, ketika kita berubah menjadi validation seeker, hal itu bisa menjadi pedang bermata dua bagi diri sendiri.
Berangkat dari kebiasaanku mencari validasi orang lain, 2025 menyadarkanku bahwa mencari pengakuan bukanlah hal yang salah. Tetapi menggantungkan nilai diri sepenuhnya pada pengakuan orang lain justru sering kali berakhir tidak sesuai dengan ekspektasiku. Mencari validasi menjadi kesalahan yang terasa “normal” di zaman sekarang. Aku terbiasa mengukur pencapaian lewat angka, standar eksternal, dan pengakuan, sampai akhirnya lupa bertanya:
apakah aku benar-benar hidup sesuai dengan nilai dan prinsip yang aku percaya, atau sebenarnya hanya berusaha memenuhi harapan orang lain?
Dari sini aku mulai belajar membedakan mana suara hatiku dan mana suara ekspektasi orang lain. Tidak mudah, karena keduanya sering kali bercampur. Namun perlahan, aku belajar memilih—meski terasa berat. Tidak semua hal harus aku jelaskan, tidak semua orang harus aku puaskan, dan tidak semua penilaian perlu aku jadikan tolak ukur tentang diriku sendiri.
Mungkin proses ini akan memakan waktu yang panjang. Aku akan terjatuh ke lubang yang sama berkali-kali. Tapi setidaknya sekarang aku mulai tahu: menjadi manusia bukan tentang tampil sempurna, melainkan berani hadir apa adanya. Dengan segala kekurangan, keraguan, dan luka yang masih belajar sembuh.
Dan jika suatu hari aku kembali lupa, aku harap tulisan ini menjadi pengingat:
aku bukan gagal—aku sedang bertumbuh.
Komentar
Posting Komentar