do I still matter?
Aku duduk di sebuah kafe dekat gedung tempat aku belajar sambil meminum segelas americano. Anehnya, di tengah keramaian dan suara orang-orang yang bercengkerama, pikiranku justru terasa semakin penuh.
Belakangan ini aku sering bertanya pada diri sendiri:
apakah aku benar-benar pantas menjadi seseorang yang berguna bagi keluarga, teman, saudara, bahkan untuk diriku sendiri?
Atau selama ini aku hanya hidup untuk kepentingan pribadi, tanpa memberikan arti apa pun bagi sekitar?
Waktu terus berjalan. Aku sadar akan hal itu. Namun entah kenapa, aku merasa masih berada di titik yang sama. Mengulang kesalahan yang sama, terjebak dalam pola hidup yang hanya menghabiskan waktu tanpa arah yang jelas.
Semakin bertambah usia, semakin aku merasa tertinggal.
Bukan hanya soal pencapaian, tetapi juga tentang kedewasaan mental.
Ketika melihat teman-teman, saudara, bahkan orang-orang asing di luar sana mulai berkembang dan melangkah lebih jauh dalam hidup mereka, aku justru merasa diam di tempat. Hari-hariku terasa hanya diisi dengan rutinitas yang berulang: bangun, bekerja, makan, tidur, lalu mengulang semuanya lagi keesokan harinya.
Aku mulai mempertanyakan banyak hal.
Apa sebenarnya tujuan hidupku?
Apa gunanya aku ada di dunia ini jika hanya menjalani hidup tanpa arah?
Dulu aku adalah seseorang yang penuh semangat. Aku bisa konsisten, percaya diri, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Namun sekarang semuanya terasa berbeda. Aku menjadi lebih mudah menyerah, malas, kehilangan motivasi, dan hidup tanpa gambaran tentang masa depan.
Jangankan memikirkan 10 tahun ke depan, memikirkan hari esok saja terkadang terasa berat.
Aku juga sering bertanya dalam hati:
apakah seseorang seperti aku pantas memiliki pasangan hidup? Menjadi istri? Menjadi ibu? Dengan kondisi mental yang terasa kacau seperti sekarang, aku bahkan meragukan diriku sendiri.
Di titik ini, aku bingung harus meminta tolong kepada siapa.
Dan pada akhirnya, aku kembali berbicara kepada Tuhan.
Ya Allah, aku tahu Engkau selalu ada. Bahkan sampai detik ini, ketika aku menulis tulisan ini di sudut kafe dengan segala pikiran yang berisik di kepala, aku tahu Engkau masih mendengarkan.
Aku bukan tidak membutuhkan-Mu. Justru aku sangat membutuhkan-Mu.
Namun sering kali aku merasa malu dengan diriku sendiri. Dengan ego, kesalahan, dan dosa yang terus aku ulang. Aku takut mengecewakan-Mu, tetapi di saat yang sama aku juga merasa tersesat dan tidak tahu bagaimana cara keluar dari semua ini.
Mungkin menulis adalah satu-satunya cara agar hatiku sedikit lebih tenang hari ini. Walaupun sejujurnya, sampai sekarang aku masih merasa berada di dalam “lubang besar” itu.
Aku belum benar-benar menemukan jalan keluarnya.
Tetapi setidaknya, hari ini aku mencoba jujur pada diriku sendiri.
Dan mungkin, itu bisa menjadi awal.
Komentar
Posting Komentar