Hari itu

     masih tergambar jelas wajah cantikmu, hidung mancungmu, dan tawa manismu yang diam mengakar dalam kenangan.  suasana riuh tangisan semua orang saat kamu pergi, bu. tidak ada persiapan, tidak ada perasaan akan ditinggalkan, yang ada saat itu  adalah perasaan optimis bahwa kamu akan kembali kerumah dalam keadaan sehat. 

    pasang surut kehidupan yang selama ini kita perjuangkan,  aku sangat mengerti mengapa kamu begitu teriyuh kesakitan, tapi disisi lain ada aku sebagai buah hatimu yang masih perlu kehadiran dan kasih sayang darimu. 

    hari dimana kita pergi jalan-jalan disaat aku mulai mahir menyetir mobil, berdua pergi ke pusat kota yang dimana aku masih ketakutan untuk mencari tempat parkir, dan kamu tertawa manikmatinya, ini menjadi perjalanan terakhir kita

    hari dimana kamu hanya bisa tertidur lemas di atas kasur. kamu ingin aku buatkan sayur asam dan tempe goreng tepung. kamu masih saja merasa merepotkanku, bu.. ini tidak sama sekali sebanding dengan apa yang ibu lakukan selama 21 tahun terkahir untukku.  dan ini menjadi menu makanan terakhir kita.

    tandu yang membawamu ke ruang isolasi, tanganmu mengenggam tanganku, masih terasa sentuhan itu, sentuhan yang aku tidak tahu bahwa itu sentuhan terakhir kita, bu.

begitu banyak hal yang aku merasa itu bukan yang terakhir kalinya bagi kita. 

    kubawakan biskuit dan buah kesukaanmu, tapi itu tidak sebanding dengan ketika aku bisa duduk disampingmu, menyuapimu makanan rumahsakit yang rasanya hambar, tapi bu.. aku tidak bisa melakukan apapun pada saat itu. hanya diam berdo'a agar kamu sehat dan bisa pulang kerumah. entah hatimu terbuat dari apa, senyummu tidak hilang sekalipun kamu sedang sekarat, kita berbincang lewat video call dan kamu yang menguatkanku dan menyakinkan bahwa kamu baik-baik saja.

di malam sebelum kepergianmu, keadaanmu membaik dan aku bisa tertidur tenang dimalam itu, sesaat aku bangun, pesan whatsapp yang memberitahu bahwa kamu pergi untuk selamanya, disaat itu aku hanya diam dan tak sedikitpun air mata jatuh,  sampai dimana bapak memelukku erat, disaat itupun duniaku runtuh seruntuh-runtuhnya. aku tidak siap kehilanganmu, ibu. 

jasadmu hanya bisa kulihat berbentuk foto, kamu cantik dan tersenyum. seolah kamu ingin aku tetap bisa senyum saat kepergiaanmu. 

3 tahun berlalu, walau masih bisa senyum tapi senyumanku belum terasa utuh, bu... semoga semua yang kulakukan saat ini tidak mengecewakanmu ya bu, I miss you !


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pinicha's birthday letter

betrayed

Si Rebel Baik Hati