SADAR

           tidak lah penting untuk bersorak bahwa ia menyesalinya, karena itu tak akan bisa merubah kembali dimana saat itu ada satu tempat bernaung yang hangat, aman dan nyaman untuknya, ia akan terus melanjutkan hidup sebagaimana mestinya hidup. 

    ia manusia yang pada saat itu masih asyik dengan pikiran-pikiran nya, ke kanak-kanakannya, kepolosannya, dan ketidakpekaannya. ia menolak sesuatu yang datang hanya untuk mempertahanakan sesuatu yang akhirnya pergi. bertahun-tahun ia ditemani oleh manusia yang selalu ada saat senang dan susah, menjadi solusi saat ada masalah, dan menjadi jawaban disaat ada pertanyaan, semua yang ia dapatkan tertutup oleh pikiran dangkalnya. yang pada akhirnya, salah satu memilih pergi.

    pada saat itupun, ia menyadari, belum ada lagi tempat bernaung , belum ada lagi tempat untuk merebahkan lelah, belum ada lagi tempat yang bisa menerima segala kegaduhan yang dialami. ia terus berusaha mencari cara bagaimana mengahadapi segala perubahan yang terjadi. 

dan hari ini ia semakin dewasa dan pikirannya mulai meluas, ia sadar bahwa dicintai itu penting, baginya. ia akan mulai lebih menghargai seseorang yang mau menjadi sandaran lelahnya, sebelum semuanya membutuhkan lagi "sadar" saat sesuatu itu pergi untuk kesekian kalinya. 

            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pinicha's birthday letter

betrayed

Si Rebel Baik Hati