Hampir selesai
Tahun ini hampir selesai, apa yang harus ku katakan pada diriku sendiri? bagaimana bisa, mengaku pada diri sendiri saja masih payah. mati-matian bangun rumah dalam diri yang udah lama rusak pun prosesnya terasa sangat lama, merasa tidak pernah berdiri di kaki sendiri, selalu mengeluh dengan alibi tersenyum dan menghibur manusia disekitar. selama ini aku hidup untuk siapa? bisa-bisanya aku berpikir dengan memilih jalan hidup yang sudah ada garis rutenya akan lebih cepat sampai dan terasa jelas. dan kenyataanya malah sebaliknya. takut kehilangan orang tersayang yang ujungnya malah kehilangan diri sendiri.
tulisan ini menjadi titik balik dimana aku sadar penuh bahwa garis besarnya ternyata hidup akan terus menjadi pilihan, for sure, bukan hanya ucapan. pilihan akan menjadi sulit saat kamu dipaksa untuk memilih sesuatu yang sebelumnya belum pernah kamu pilih. aku tidak menyalahkan, tapi mungkin sedikit disayangkan, kenapa aku begitu jahat pada diri sendiri sampai-sampai keinginan diri sendiri pun diabaikan?kenapa keinginan orang lain dulu yang diutamakan? aku merasa takut ditinggalkan, itulah mengapa selalu menaruh orang lain dihalaman utama untuk di bahagiakan. sampai saatnya aku sadar, aku juga ingin merdeka, bebas, bahagia tanpa ada yang disembunyikan. egois? bisa dibilang begitu. tapi hidup bukan selalu tentang kebahagian orang lain, tapi sesederhana bagaimana cara aku bisa merasa sembuh.
setelah sadar, aku makin belajar untuk menerima diri yang sebelumnya selalu lelah, berusaha menghibur diri dengan cara sesederhana menurutku, menyadari jiwa dan ragaku yang begitu berharga.
dan akhirnya memang hidup ini selalu harus diperjuangkan, soal hasil dan ujungnya, biar hak Allah yang berbicara.
untuk kalian yang membaca dan mungkin merasakan yang sama, we have a same side <3
Komentar
Posting Komentar